Gegara ulah Trump, pengaruh Amerika memudar di Asia, kini diambil alih China - Wawker.com | Berita - Hiburan - Video - Misteri - Konspirasi - Unik - Aneh - Kocak
Loading...

Gegara ulah Trump, pengaruh Amerika memudar di Asia, kini diambil alih China

Loading...
Hanya dalam waktu satu tahun Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah mengubah pandangan orang Asia terhadap Amerika.



Dilansir dari laman CNN, Sabtu (27/1), menurut survei Gallup terbaru, pengaruh Amerika di Asia, Jepang, Australia, dan Korea Selatan kini kian memudar. Memang tidak ada penarikan mundur aset militer atau kedutaan besar yang ditutup, namun jargon 'Amerika lebih dulu' dari pemerintahan Trump telah membuat orang Asia tidak lagi tertarik pada Negeri Paman Sam dan hal ini cukup berdampak serius.

"Sekarang tiap kali ada konferensi internasional (di Asia), tak ada lagi orang membahas soal Amerika. Ini agak aneh," ujar pengamat dari Universitas Kyushu Chisuke Masuo kepada CNN.

Ketidakpastian komitmen AS terhadap Asia memicu para pemimpin negara untuk saling memperkuat kerja sama guna bersiap ketika AS tidak lagi menjadi penopang negara mereka. Masuo menilai China tampaknya akan mengambil kesempatan ini untuk membuktikan kekuatan pengaruhnya di Asia.

"Juli 2021 adalah ulang tahun ke-100 Partai Komunis China, dan menurut saya Xi Jinping (Presiden China) akan menunjukkan kepada rakyatnya bahwa China akan menjadi kekuatan dominan di Asia pada saat itu," kata dia.

"Amerika kemungkinan akan mengubah kebijakannya di Asia setelah tiga tahun, tapi saya tidak yakin itu akan terjadi," ujar Masuo. "China kini sedang membangun pengaruh internasionalnya di Asia Pasifik."

Pengamat dari Institut Yusuf Ishak Ian Storey mengatakan, di Asia Tenggara persaingan paling jelas AS dan China terlihat di Laut China Selatan. Sejak Trump masuk Gedung Putih, ketegangan di Laut China Selatan terus memudar seiring Washington dan Beijing lebih menyoroti kawasan Semenanjung Korea.

"Tapi yang namanya sejarah tidak akan berlalu begitu saja, artinya ketegangan (Di Laut China Selatan) bisa bangkit kembali," kata dia.

Di tengah rawannya situasi di Semenanjung Korea, Negeri Tirai Bambu tidak mengendurkan aktivitasnya membangun pangkalan udara dan radar di Laut China Selatan.

Beberapa negara di Asia Tenggara sudah mulai lebih merapat ke China seiring pengaruh AS di kawasan ini kian memudar. Presiden Filipina Rodrigo Duterte tahun lalu mulai membangun kerja sama lebih dekat dengan China.

Yang menjadi batu ujian bagi China di Asia Tenggara, kata Storey, adalah Vietnam. Beberapa tahun belakangan Vietnam menjadi sekutu dekat AS dengan menjalin kerja sama keamanan dan pertahanan.

Storey mengatakan jika Vietnam juga kemudian berpaling ke Beijing maka itu akan mengejutkan.

"Itu bakal jadi indikasi China memenangkan kawasan Asia Tenggara," kata dia.

Di Asia Selatan, baru dua pekan memasuki 2018, Panglima militer India Jenderal Bipin Rawat, mengatakan kini sudah waktunya bagi India untuk mengubah fokus pertahanannya ke sebelah utara di perbatasan dengan China.

"India mampu menangani sikap tegas China. China adalah negara kuat tapi kita bukan negara lemah," kata dia di New Delhi pada 12 Januari lalu, seperti dikutip laman the India Express.

Komentar Rawat itu membuat Beijing berang dan mendapat tanggapan dari Kementerian Luar Negeri China.

Pengamat dari Pusat Penelitian Kebijakan di New Delhi, Bharat Karnad, mengatakan langkah India ini seharusnya sudah dilakukan sejak lama.

"Kami mengubah fokus militer dari Pakistan ke China. Ini seharusnya dilakukan sejak 30 tahun lalu," kata dia.

Menurut Rawat, India dan sejumlah negara Asia lainnya, termasuk Jepang kini sudah menganggap AS sebagai 'kekuatan yang memudar' dan tak bisa lagi dijadikan sandaran untuk kepentingan pertahanan.

"Kondisi ini bisa terlihat di masa depan lewat negara-negara Asia, terutama India dan Jepang yang kini bekerja sama untuk kepentingan pertahanan," kata dia.

Setelah bulan lalu AS mengumumkan akan menunda bantuan militer bagi Pakistan, kini Pakistan berpaling ke Rusia dan China.

Mantan Menteri Luar Negeri Pakistan Hina Rabbani Khar mengatakan China sudah menjadi negara sahabat sejak lama.

"China barangkali satu-satunya rekan strategis Pakistan, bukan cuma untuk hari ini atau lima tahun terakhir tapi sudah selama empat dekade. Dengan China kami saling melengkapi kepentingan bersama," kata Khar. [pan/merdeka.com]
Loading...

Kesehatan dan Bisnis

Loading...