Loading...

Mengungkap Misteri Sekolah Intelijen, Tempat Para Calon Agen Rahasia Indonesia ditempa ( bagian II )

Tanggal Update

Selanjutnya Next Post
Sebelumnya Previous Post
Loading...
Pria mendominasi
Dalam proses kuliah, keseimbangan antara teori dan praktik dijaga betul.

Terdapat dua jenis praktik. 

Pertama praktik kering berupa simulasi dengan sasaran semu, misalnya mewawancarai teman sendiri.

Kedua, praktik basah berupa terjun langsung ke lapangan.

( baca : Mengungkap Misteri Sekolah Intelijen, Tempat Para Calon Agen Rahasia Indonesia ditempa ( bagian 1 )

Saat praktik inilah keahlian mereka sebagai intelijen benar-benar diasah.

“Ketika operasi buka-buka buku dulu, ‘kan tidak mungkin,” papar Tri Yoga.

Setiap hari jadwal perkuliahan berlangsung pada pukul 08.00– 16.00, sedangkan Sabtu hanya

setengah hari.

“Jenuh juga ‘kan kalau setiap hari di gunung,” jelas Wahyudi.

Karena akses dari STIN ke pusat kota terdekat cukup sulit, maka para mahasiswa yang ingin berlibur akan diantar dengan kendaraan milik STIN.

Selain gedung kuliah, gedung administrasi, lapangan olahraga, baik indoor maupun outdoor, serta lapangan tembak; STIN juga menyediakan fasilitas asrama putra dan putri.



Asrama putra empat lantai dan semuanya penuh.

Sementara asrama putri yang berdaya tampung tiga lantai hanya satu lantai yang terisi.

Komposisi siswa STIN memang didominasi pria.

Untuk angkatan terakhir saja, perbandingannya 69 putra dan 24 putri.

Gelar yang akan disandang ketika lulus kelak adalah Sarjana Intelijen (S.In.).

Tapi tentunya gelar ini jarang atau bahkan tidak akan pernah mereka catat dalam penulisan nama mereka. Maklum, namanya juga agen rahasia.

Para mahasiswa ini nantinya akan bekerja di BIN karena memang untuk saat ini STIN hanya fokus memasok SDM ke lembaga intelijen negara itu.

“Tapi enggak tahu juga ke depannya. Dunia intelijen itu luas, tidak sekadar masalah security. Masalah bisnis juga menyangkut intelijen,” terang Tri Yoga.

Bohongnya white lies

“Jika berhasil tidak dipuji, jika gagal dicaci maki, jika hilang tidak dicari, dan jika mati tidak ada yang mengakui.”

Begitulah kurang lebih gambaran seseorang intelijen.

Hidup penuh kerahasiaan, bahkan sejak pengumuman kelulusan.

Lembar pengumuman hanya akan diisi oleh nama-nama peserta yang tidak lulus.

Wajar jika siapapun – termasuk wartawan – dilarang mengambil foto yang memperlihatkan wajah mereka secara jelas.

Taktik untuk menyembunyikan identitas ini memang diajarkan langsung kepada para mahasiswa.

Seperti melalui kelas klandestin. Untuk menyembunyikan identitas, mereka kerap mengalihkan pembicaraan.

Dalam kondisi tertentu, bahkan bisa saja mereka berbohong dengan menyatakan dirinya kuliah di perguruan tinggi tertentu.

“Bohongnya ‘kan white lies, untuk tujuan yang baik,” tutur Wahyudi.

Keluarga juga memiliki peran penting dalam menyembunyikan identitas.

Mereka sadar bahwa kerahasiaan pendidikan penting untuk pekerjaan dan keselamatan anak mereka.

Praktik menyembunyikan identitas juga dilakukan beberapa anggota BIN lainnya, terutama mereka yang memang berperan sebagai agen operasi.

Nama mereka tidak akan ada dalam daftar pegawai BIN.

Ketika bertugas menggunakan identitas lain.

Tentunya setelah bersepakat dengan orang atau lembaga yang identitasnya “dipinjam”.

Mereka juga kerap nebeng dengan para pekerja dari profesi lain. Misalnya wartawan.

Saat wartawan yang asli meliput suatu peristiwa, bisa saja agen yang berperan sebagai wartawan ikut serta.

“Meski sama-sama di lokasi, fokus yang dia cari pasti berbeda. Sehingga produk (baca: laporan) yang dihasilkan juga berbeda. Bisa dibilang kita ngumpulin off the record-nya,” ujar Wahyudi.

Ada di mana-mana

Pada praktiknya, ilmu yang didapat di STIN belum tentu benar-benar akan diterapkan.

Sebab, intelijen adalah seni.

Kemampuan berimprovisasi sangat dibutuhkan di lapangan.

Maklum, setiap penugasan sangat berbeda.

Masing-masing memiliki situasi dan kondisi yang sangat spesifik.

Maka dalam bekerja, ada prinsip RAE (Regular-Alternative-Emergency).

Ada rencana awal (regular), rencana cadangan (alternative), dan rencana untuk menyelamatkan diri (emergency) jika berada dalam kondisi bahaya atau saat identitas akan atau sudah terbongkar.

Tidak dapat dipungkiri pula dalam dunia intelijen faktor keberuntungan sering ikut bermain.

“Tapi seni intelijen yang baik adalah selalu mengarahkan pada faktor keberuntungan tersebut,” ujar Adisiswanto.

Meski kerap menyamar dan berbohong, intelijen – khususnya BIN - tidak memiliki doktrin “menghalalkan segala cara untuk mendapatkan informasi.”

“Doktrin kita justru ‘Ada di mana-mana tapi tidak terasa.’ Jangan sampai membuat orang lain merasa sakit atau dirugikan,” lanjut Tri Yoga.

Sayangnya, untuk peralatan, BIN masih tertinggal dengan lembaga intelijen negara-negara maju.

Toh, kata Tri Yoga, itu bukan masalah besar, terutama sejak peristiwa 9/11 atau runtuhnya gedung WTC di Amerika Serikat.

Teknologi intelijen yang memakai peralatan begitu canggih ternyata masih bisa “dibobol”.

Paradigma technology intelligence yang sempat dipuja-puja akhirnya runtuh dan digantikan paradigma human intelligence.

Pengembangan manusia menjadi prioritasnya.

Dunia intelijen memang penuh trik dan kerahasiaan.

Namun Tri Yoga berharap masyarakat tidak memandang intelijen sebagai musuh, seperti yang saat ini lazim terjadi.

“Kita bekerja untuk melindungi negara dan masyarakat. Bukan untuk kepentingan penguasa saja,” ujar Tri Yoga.

Selain itu, “Kita juga bukan orang-orang aneh, kita tetap manusia biasa,” tambah Adisiswanto.

Seleksi Ketat

Sistem perekrutan STIN cukup unik. Cara yang pertama adalah dengan meminta para kepala sekolah dari sekolah-sekolah yang telah ditentukan oleh BIN (tentunya yang unggulan) untuk memberikan rekomendasi siswa-siswi yang berprestasi.

Jika sekolahnya tidak termasuk yang dipilih BIN, cara kedua yang digunakan, yaitu orangtua mengajukan surat pendaftaran anaknya ke kepala BIN.

Jadi, seorang calon siswa tidak bisa mendaftar sendiri tanpa sepengetahuan orangtuanya.

Syarat serta ujian yang dilalui cukup ketat.

Berbagai tes inteligensia, kepribadian, dan fi sik harus dilewati.

Ketatnya seleksi ini bisa terlihat dari jumlah peserta yang diterima.

Meski STIN memiliki kuota mahasiswa hingga 93 orang, baru tahun ini mereka mampu memenuhinya.

“Sebelumnya hanya mampu mencapai 50-an orang karena hanya sejumlah itulah SDM yang kita anggap layak untuk masuk STIN,” tambah Tri Yoga.

Karakter Intelijen

Rasa ingin tahu yang tinggi menjadi salah satu karakter terpenting seorang intel.

Jika hal itu dilengkapi dengan ketelitian, keuletan, dan ketangguhan dalam mencari informasi, seorang intel akan mampu mengumpulkan informasi yang banyak dan penting.

Karakter penting lainnya adalah kejujuran dan kesetiaan.

Kejujuran sangat penting untuk menjamin kebenaran informasi.

Untuk menjamin kejujuran ini, BIN kadang melakukan cross check dengan mengirimkan beberapa orang untuk suatu tugas yang sama, tentunya secara terpisah.

Sementara faktor kesetiaan sangat berkaitan dengan perannya sebagai pencari sekaligus pemegang informasi penting negara.

Faktor kesetiaan dapat menjamin informasi yang dimilikinya tidak bocor ke pihak lain.

Untuk melengkapi karakter ini, maka diperlukan sikap kontrol diri yang tinggi.

Sehingga dia tidak akan tergoda dan mudah ditipu oleh pihak-pihak lain.

(Artikel ini pernah tayang di Majalah Intisari edisi Desember 2012)
Jelajah Artikel Lainnya
Loading...