Loading...

Curhatan Mengejutkan Penata Rias ‘Ibu’ Dalam Film Pengabdi Setan yang Mendandani 25 Mayat

Loading...
Film Pengabdi Setan nggak henti-henti menuai perhatian nih. Setelah menembus lebih dari 1,8 juta penonton dalam 12 hari pertama, belum lama film garapan Joko Anwar tersebut meraih 13 nominasi dalam ajang Festival Film Indonesia (FFI). Salah satunya dalam kategori penata rias terbaik.


Sosok yang berada di balik riasan seram tersebut ialah Darwyn Tse. Pria kelahiran Medan, 28 November 1976 itu memang telah beberapa kali menjadi penata rias di beberapa film Indonesia. Sebut saja Arisan! 2 (2011), Soegija (2012), dan Laura & Marsha (2013). Kini, lewat Pengabdi Setan namanya kian melejit di masyarakat.

HAI berkesempatan nih untuk mewawancarai orang di balik special effect make up film remake tersebut. Well, ini dia curhatan piñata rias ‘Ibu’ dalam film Pengabdi Setan yang mendandani 25 mayat! Dewi


Kapan pertama kali nonton film Pengabdi Setan?
Pertama kali nonton Pengabdi Setan versi original memang udah nge-fans waktu kelas 5 SD. Nah, mungkin karena gue orangnya kreatif, jadi nggak ngerasa ada takutnya, tapi lebih ke aneh.

Baru nonton lagi setelah balik lagi ke Indonesia tahun 2004 dan nemu VCD-nya lalu nonton lagi. Eh gue pengen kalo film ini di-remake yang makeup-in, gue benerin. Karena teknologi zaman itu ada kebocoran, dari warna muka dan tangan yang beda, dll.


Memang gimana sih awal keterlibatan di film ini?
Bulan Mei awal, salah satu teman post di Instagram film ini mau dibikin ulang dan sutradaranya Joko Anwar. Superexcited, cuma nggak mikir jauh. Dua minggu kemudian, line producer-nya Whatsapp ajak ketemuan. Ternyata itu nawarin, Abang (Joko Anwar) yang pengen gue.

Setelah itu, gue minta izin kantor. Akhirnya diizinin dan ketemu Joko Anwar secara langsung. Di-breef dan ada proses presentasi. Apakah ada konsep atau referensi tertentu saat merias di film ini?

Hmm.. Jadi sebelumnya kita ada make up test dan based on script aja semua. Misal waktu scene ibu sakit, Abang maunya bikin dia sakit tapi nggak bikin orang kasian. Abang maunya ibu cantik, tapi seremnya luar biasa. Jadi senyum seringai, gue bikin senyumnya kayak joker gue naikin dikit dan kukunya dipanjangin.

Abang maunya apa, kita ikutin. Kita imajinasi aja dari script. Karena gue nggak mau referensi-referensi yang lain, jadi totally baru.

Kita 'kan juga harus research. Pembusukan-pembusukan (mayat) itu berapa hari dan gimana prosesnya. Kita liat di YouTube, serem sih memang.



Paling susah make up-in siapa?
Kalau susah untuk look-nya sendiri sih nggak. Lebih ke suasananya, karena itu di Pengalengan, dingin dan itu 70% syutingnya malem. Jadi pas scene terakhir mayat-mayat hidup itu dijadiin dua hari. Itu 25 orang. Akhirnya kita bagi per kelas, kelas A, B, dan C. Kelas A itu yang nantinya (mayat) akan kita close up, jadi bikinnya lebih rapi, detil, dan utama kita mulai duluan dari jam 12 siang. Baru kloter B dan C.


Bagaimana special effect diaplikasikan di tokoh film ini?
Kalau Ibu alisnya kita tutup kasih wax lalu dilem. Kita juga pasang lensa kontak. Untuk hantu-hantu kita udah cetak latex waktu pre-production. Kalau Nenek ‘kan sifatnya hantu bunuh diri, jadi buat nambah efek seremnya kita tambahin seakan-akan dia loncat kebentur kasih efek robek sedikit, paling itu aja sih. Dan kita tuain pake guratan-guratan latex. Sama bapak bawah matanya kita pakein latex.



Berapa lama waktu untuk merias?
Ibu cepet sih based on scene. Paling waktu jadi mayat itu 2 jam. Sisanya sebentar. Kalau Tara Basro maunya make up sendiri. Jadi kita sudah siapin make up.

Ada pengalaman horor saat proses produksi?
Hmm.. Katanya orang-orang, itu tempat seremnya minta ampun. Tapi, 16 hari kita ke sana nggak ada. Semua produksi lancar, nggak ada gangguan. Paling suara-suara itu aja yang kerekam, sebatas itu.Tapi mungkin pengalaman orang beda-beda kali ya.

Si Dimas katanya tiba-tiba flu, meriang. Katanya sih meriangnya Cuma waktu ke lokasi, waktu pindah lokasi nggak papa. Sedangkan kalau si Andi katanya ngeliat pintu, jendela ketutup atau apalah.

Mayatnya ibu yang cetakan dari silicon itu kita bawa dari Jakarta. Jadi pas di hotel, gue dapet kamar sendiri double bed. Jadi selama 10 hari sebelum syuting pemakaman itu cetakannya ibu sama gue di kamar. Crew-crew lain nanya, “yakin tuh?”. Terus malam ke berapa gempa, gue bangun sebentar goyang dan nengok ke sebelah itu (tangannya) goyang karena silicon. Tapi ohyaudah gempa.

Cuma becandaan banyak. Gue bilang ke si produser, “eh ini yang gue make up-in 25 ya. Jangan ada yang nambah atau kurang ya”

Abang juga pesen kalau ada apa-apa diem aja. Abang mau jangan dijadiin gimmick-gimmick karena kita jualan film.


Momen paling diinget saat syuting?
Semua, everything. Karena gini loh, idola gue udah tiga di sini (Film Pengabdi Setan, Joko Anwar, dan Ayu Laksmi), mau apa lagi? Anak-anaknya juga seru. Crew-crew juga emang temen semua.

Paling pas di set nunggu take kalau sama Ibu Elly Luthan sukanya ngebanyol. Jadi Tara ‘kan bawa mamanya selama syuting, pas basecamp waktu nyiap-nyiapin make up udah ngebanyol. Mamanya Tara suka masak, jadi yang deket-deket suka dimasakkin.



Pernah nyangka masuk nominasi FFI?
Nggak pernah mikir. Sekarang kerja kita sebagai penata rias sudah diakui. Kalau dulu ‘kan di film katagorinya masih di bawah artistik. So, exciting iya. Gue nggak looking forward buat menang sih sebenernya.

Well, curhatan Darwyn Tse terkait film Pengabdi Setan banyak dan menarik ya guys. Kebayang nggak tuh rias 25 mayat, Ibu, dan tokoh-tokoh lain. Belum lagi tidur bareng cetakan mayat. Berani?
grid.id
Loading...