Loading...

Inilah sosialita Indonesia paling "gila" di Indonesia, punya harta 10 triliun rupiah

Loading...
Nama Benny Subianto sudah tidak asing lagi di dunia bisnis, dia merupakan salah satu pendiri PT Astra Agro Lestari yang juga pemilik saham PT Adaro Energy. Namun, perjuangannya harus terhenti saat Benny meninggal pada 4 Januari 2017.



Saat masih hidup, Benny pernah mengungkapkan keinginannya agar satu dari tiga putrinya bisa mengambil alih bisnisnya. Keinginannya tersebut dipenuhi oleh putri tertuanya yakni Arini Sarraswati Subianto (47).

Arini saat ini menjadi Direktur Utama di perusahaan keluarga, Persada Capital Investama yang mengawasi investasi dalam segala hal mulai dari produk pengolahan kayu dan minyak sawit, sampai pengolah karet dan batubara.

Tahun ini, namanya masuk dalam jajaran orang terkaya di Indonesia. Dengan kekayaan bersih sebesar USD820 juta atau Rp10,91 triliun (kurs Rp13.308 per USD), Arini berhasil menempati posisi ke 37 dan mengalahkan sejumlah pebisnis yang mayoritas laki-laki.

Adik perempuannya, Ardiani (40) sebelumnya adalah ibu rumah tangga, sekarang dia turut bekerja di Persada, sementara itu, saudara perempuannya yang lain, Armeilia (44) menjalankan bisnis desain grafis miliknya sendiri.

Meski dikenal dengan sebagai seorang sosialita, ternyata Arini juga tidak melupakan pendidikannya, dia mendapatkan gelar sarjana dari Parsons School of Design dan M.B.A. di Fordham University lalu membuka toko furnitur di Jakarta. Dua tahun kemudian, dia menggabungkan toko kecilnya dengan toko buku tetangganya Aksara.

"Kami memutuskan untuk membangun sesuatu yang unik di Jakarta, membawa pulang pengalaman ritel yang kami dapatkan di Amerika," kata Arini.

Aksara yang berarti "huruf alfabet," memiliki tiga lokasi di kota, tempat menjual segala sesuatu mulai dari buku-buku asing hingga CD dan hadiah.


Benny Subianto

Berbeda dengan putrinya, Benny mengikuti jalur karir yang lebih tradisional. Dirinya merupakan anak dari seorang pedagang gula dan beras kecil. Dia memulai karirnya pada 1969 sebagai salesman di perusahaan alat berat kecil, yaitu Astra International.

Di tahun-tahun mendatang, Astra menjadi distributor untuk Toyota, Honda, dan Xerox, serta muncul sebagai salah satu grup bisnis terbesar di negara ini. Sementara Astra tumbuh, Benny membangun bisnisnya sendiri yang juga sukses berkat kemampuan jaringannya, dan dengan cepat meningkat melalui jajaran perusahaan.

Pada 1988, dia meraih 5% saham di Astra dan menjabat sebagai wakil presiden. Dia juga membentuk konglomerat Grup Triputra yang terdiversifikasi pada 1998. Tujuh tahun kemudian, dia membeli sekitar 12% saham di Adaro Energy

"Alasan saya untuk menjadi pengusaha itu sederhana, saya ingin terus pergi ke kantor bahkan di usia 71,” ungkapnya. ( okezone.com )
Loading...