Loading...

Siswi SMK Malang di gorok leher nyaris putus, pelakunya gak pernah ia sangka bisa sekejam itu

Loading...
Pembunuhan sadis menggemparkan Kabupaten Malang, Jawa Timur. Fenna Selinda Rismawati, (16), siswi kelas X jurusan mesin SMK Brantas Karangkates, Sumberpucung, diduga digorok temannya sendiri, perempuan inisial NFM, 18, warga Donomulyo, Sabtu (29/12).


Kondisi Fenna yang berdarah-darah ditemukan oleh warga sekitar pukul 11.30 di sekitar Pantai Ngliyep Desa Kedungsalam, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang. Korban mengalami luka bacok di leher sekitar 20 cm hingga leher nyaris putus. Selain itu mengalami luka sayatan di punggung, perut, dan lengan tangan kiri.

Meski berlumuran darah dan mengalami luka parah, korban masih bisa bertahan dan menyebutkan nama seseorang selama perjalanan menuju RSUD Kanjuruhan.

Sayangnya, nyawa Fenna tidak bisa diselamatkan meski sempat mendapatkan perawatan. Dan yang cukup membuat heran, diduga kuat penyebab aksi pembunuhan itu hanya gara-gara persoalan jual beli bedak secara online.

Menurut ayah tiri korban, Sudarsono, sekitar pukul 13.30, dia mendapat kabar Fenna mengalami kecelakaan. Untuk diketahui, ayah kandung Fenna adalah Iswanto. Namun Iswanto sudah bercerai dengan istrinya. Ibu kandung Fenna menikah lagi dengan Sudarsono.

Sudarsono mengatakan, istrinya (ibu kandung Fenna) sempat meminta dirinya menghubungi Fenna lewat telepon.

”Ketika saya telepon Fenna sempat mengangkatnya, namun tidak jelas apa yang dibicarakan. Soalnya nada yang terdengar seperti suara rintihan orang menahan sakit,” tutur Sudarsono.

Ditanya soal kemungkinan penyebab kematian anak angkatnya, Sudarsono menambahkan, dari penuturan ayah kandung korban, Iswanto, Fenna sempat bersitegang dengan temannya yang bernama NFM, sehari sebelum kejadian nahas ini.

Menurut penuturan Iswanto kepada Sudarsono, pada Kamis (28/12) anaknya cekcok dengan NFM soal bedak. Itu karena korban telah menyerahkan uang Rp 110 ribu untuk membeli bedak secara online melalui NFM.

Tapi sudah lama bedak pesanan anaknya tidak kunjung dikirim. Namun, cekcok itu bisa diselesaikan dengan baik. Dua gadis itu kembali berteman seperti biasa. Maka kata Sudarsono, Iswanto mengaku sangat kaget mendengar anaknya dibunuh. Untuk itu, dia berharap pelaku dihukum seberat-beratnya. "Kami tidak terima, pelaku harus dihukum berat," pinta Iswanto. ( jpnn.com )
Loading...