Loading...

Sudah siap? Bumi akan segera kembali memasuki zaman es

Loading...
Dalam perjalanannya, Bumi telah mengalami beragam zaman. Salah satunya zaman es. Di mana saat itu, suhu sangat dingin dan hampir seluruh permukaannya di tutupi oleh es. Namun perlahan-lahan zaman es menghilang.


Tetapi kini, Bumi menjdi cukup hangat bahkan panas akibat pemanasan global. Hal ini tidak terlepas dari majunya industri yang menghasilkan polusi yang memenuhi Bumi. Tapi para ilmuwan kini memberikan peringatan lain.

Dalam sedikit lebih dari satu dekade ke depan, Bumi bisa berada dalam 'zaman es mini'. Suhu akan mulai turun pada tahun 2021, menurut model matematis dari energi magnetik Matahari. Lantas apa yang terjadi pada makhluk hidup di dalamnya?

Ini, kata mereka, akan menyebabkan sebuah fenomena yang dikenal sebagai 'minimum Maunder'. Yang sebelumnya telah dikenal sebagai zaman es mini, yang terjadi antara tahun 1646 dan 1715. Bahkan menyebabkan Sungai Thames London membeku.

Studi tersebut mengatakan, bahwa antara 2020 dan 2030 siklus matahari akan membuat zaman es kembali muncul. Model siklus matahari ini menghasilkan prediksi akurat, tentang penyimpangan yang tak terduga dalam 'detak jantung' 11 tahun Matahari.

Ini menarik efek dinamo di dua lapisan Matahari, satu di dekat permukaan dan satu berada jauh di dalam zona konveksinya. Penelitian yang dipimpin oleh profesor matematika Valentina Zharkova di Universitas Northumbria, mengembangkan penelitian sebelumnya, yang memprediksi gelombang magnetik yang dihasilkan oleh matahari.

Namun, dia telah memperingatkan modelnya tidak bisa dijadikan bukti zaman es mini terjadi karena pemanasan global.

"Saya harap pemanasan global akan ditimpa oleh efek ini, memberi manusia dan bumi 30 tahun untuk memilah polusi," katanya kepada Sky News.

Selama Siklus 26 tahunan, yang mencakup dekade ini dari tahun 2030-2040, kedua gelombang akan menjadi tidak sinkron. Dan ini akan menyebabkan penurunan aktivitas matahari yang signifikan.

Prediksi dari model tersebut menunjukkan, bahwa aktivitas matahari akan turun 60 persen selama tahun 2030-an. Hingga kondisi yang terakhir terlihat adalah 'zaman es mini',, yang dimulai pada tahun 1645. Dr Zharkova menerbitkan penelitian sebelumnya tentang fenomena ini, pada tahun 2015. Dan makalah baru yang diterbitkan tahun ini di Astronomi & Geofisika, telah memperkuat temuan sebelumnya.

Ini adalah 172 tahun sejak seorang ilmuwan pertama kali melihat, bahwa aktivitas Matahari bervariasi selama satu siklus, yang berlangsung sekitar 10 sampai 12 tahun. Tapi setiap siklus sedikit berbeda, dan tidak satu pun model benar-benar menjelaskan fluktuasi.

Banyak fisikawan telah menempatkan penyebab siklus matahari turun, di antaranya konveksi cairan jauh di dalam Matahari. Lantas apakah Bumi akan kembali ke zaman es mini? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.
beritauaja.com
Loading...