Loading...

Meski pengangguran, Tole maunya dilayani kayak raja, berujung nasib tragis yang menimpa

Loading...
KEINGINAN Minthul (nama samaran), 29, agar sang suami membantu pekerjaan rumah, diabaikan sang suami. Tole (juga nama samaran), 33, sang suami memilih ongkang-ongkang kaki. Melihat gaya sang suami, membuat Minthul geram. Padahal, Tole saat ini tidak bekerja setelah dipecat oleh perusahaannya.



Tak ayal, pasangan suami-istri (pasutri) yang tinggal di Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, ini seringkali berselisih. Ujung-ujungnya, Minthul yang mengaku tak kuat dengan tabiat Tole, memutuskan menggugat cerai. Gugatan cerai itu akhirnya dikabulkan Pengadilan Agama (PA) Bangil.

Wajar saja Minthul kesal. Pasalnya, suaminya tidak mengerti kesibukan istrinya. “Padahal, setelah dia enggak kerja, saya yang banting tulang cari uang. Eh, dia sama sekali gak mau cawe-cawe pekerjaan rumah,” ujarnya. Paham primordialisme, yang mengatakan bahwa pekerjaan rumah itu menjadi tugas istri, dipegang teguh Tole.

Karena itu, kendati Tole tidak punya penghasilan, ia enggan membantu pekerjaan rumah. Minthul sendiri tak mempersoalkan ketika Tole masih bekerja. Karena ia paham, pekerjaan di kantor banyak menguras waktu dan tenaga sang suami. Tapi, tidak ketika Tole sudah jadi pengangguran.

Perceraian yang kemudian terjadi, memang disesali Minthul. Ia mengingat-ingat momen bahagia kala masih bersama. Apalagi, pernikahan mereka sudah dikaruniai 2 orang anak. Soal ekonomi? Dulunya tak ada masalah karena mereka berdua sama-sama bekerja.

Karena itu, keduanya yang masih menumpang hidup di rumah orang tua Tole, rutin mengalokasikan gaji untuk kebutuhan dapur. “Termasuk kalau ada keluarga yang kesusahan, ya kita bisa bantu dikit-dikit. Jadi bisa dibilang, dulu ekonomi gak pernah kekurangan,” ujarnya.

Namun, ibarat roda yang terus berputar, ekonomi mereka berubah drastis setelah Tole terkena PKH setahun yang lalu. Mimpi untuk bisa segera memiliki rumah, mendadak buyar. Mau tidak mau, mereka tetap tinggal di pondok mertua indah. Minthul juga akhirnya menjadi tulang punggung keluarga, sembari menunggu Tole mendapat pekerjaan pengganti.

“Tapi ya kok susah, cari kerja gak dapat-dapat. Pernah kerja serabutan, jaga toko atau ikut bengkel, tapi Tole gak kerasan. Apalagi gajinya juga kecil,” terangnya. Akibatnya, sudah hampir setahun ini, sang suami diam di rumah.

Permintaan Minthul agar suaminya kerja apa yang penting dapat uang, juga tak diindahkan. “Tapi kata Tole, daripada dapat capek gajinya gak seberapa, mending gak usah,” tirunya. Alhasil, sudah setahun ini Minthul banting tulang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Tak hanya itu, untuk mencukupi kebutuhan hidup, Minthul rela ambil lembur agar punya penghasilan tambahan. Tapi, kesibukan Minthul tak pernah dihargai oleh Tole. Bahkan, Tole enggan membantu pekerjaan rumah sama sekali.

Tole masih sering meminta dibuatkan makanan kala Minthul pulang kerja. Bahkan, ketika anaknya menangis, Tole enggan menenangkan. Padahal, Minthul sedang sibuk mencuci piring. Keluhan sang istri, hanya dianggap angin lalu.

Kecewa dan geregetan dengan sikap suaminya yang selalu ingin dilayani bak raja, lama-lama Minthul capek sendiri. Apalagi keluarga besar suaminya juga menumpahkan semua pekerjaan rumah ke dirinya. Tak tahan lagi, Minthul pun memilih bercerai. ( jawapos.com )
Loading...